Tuesday, 13 October 2015

Free Download Murottal 30 (Saikh Mishary Rasyid Ridlo Al Afasy)

Free Download Murottal Juz 30, 

Assalamualaikum teman-teman blog, dalam kesempatan ini saya akan berbagi audio mp3 murottal Al-Qur'an oleh guru besar kita yaitu Syaikh Mishary Rasyid Ridlo. Baik jangan lama-lama lagi langsung bisa di download

1. An-Nas (klik di sini)

2. Al-Falaq (klik di sini)

3. Al-Ikhlas (klik disini)

4. Al-Lahab (klik disini)

5. An-Nasr (klik disini)

6. Al-Kafirun (klik disini)

7. Al-Kautsar (klik disini)

8. Al-Maun (klik disini)

9. Al-Quraisy (klik disini)

10. Al-Fil (klik disini)

Cara Sukses Berinteraksi dengan Al-Qur'an






Jika seseorang berada di persimpangan jalan, dia pasti akan memilih salah satu di antara kedua jalan tersebut. Akan tetapi, katakan saja, karena pendatang atau orang asing, dia tidak punya petunjuk jalan yang harus dia tempuh agar mencapai tujuan. Dalam kondisi seperti itu, dia memerlukan informasi yang menunjukan jalan yang harus dia tempuh, yaitu dari orang yang mengetahui jalan tersebut; pemerintah setempat.


Ketika dia menoleh ke sebelah kiri, terlihatlah jalan yang penuh dengan daya tarik yang sangat menggiurkan. Dia pun tergoda untuk mengambil jalan tersebut. Akan tetapi, setelah dia melihat informasi resmi dari pemerintah setempat di papan pengumuman, ternyata jalan tersebut tidak akan membawanya ke tujuan. Sementara itu, jalan arah kanan terlihat menanjak dan terjal, namun menurut informasi di papan pengemuman, jalan itulah yang menuju tujuannya.

Sesulit dan sebahaya apapun jalan sebelah kanan, tidak membuat orang itu ragu melewatinya karena jalan itulah yang akan membawanya sampai ke tujuan. Dia akan berhati-hati ketika berjalan agar tidak terpeleset atau jatuh. Ketika terasa letih, dia akan berusaha menaklukannya dengan terus membahayakan tujuan akhir dari perjalanannya tersebut.

Sebaliknya, jika dia memilih jalan sebelah kiri yang dihiasi pemandangan indah, awalnya dia tidak merasa letih, namun di akhir perjalanan, dia akan menyesal karena telah memilih jalan yang salah. JIka masih ada kesempatan untuk kembali, pasti dia akan berusaha untuk kembali ke tempat semula, namun jika tidak ada, dia akan menyesal selamanya.

Setiap orang, sejak zaman dahulu sampai sekarang, memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin bahagia, sehat, teman yang setia, kedudukan yang terhormat, harta yang berlimpah, dan keinginan lainnya. Untuk meraih keinginan tersebut, Allah memberikan kemampuan yang berbeda. Namun, karena perbedaan inilah, munculah persaingan yang terkadang membuat orang lemah tertindas dan orang kuat semakin congkak. Orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab, berupaya membuat aturan yang dapat dipatuhi semua pihak demi tercapainya kehidupan yang harmonis dan teratur.

Akan tetapi, manusia tetaplah manusia dengan segala atribut keterbatasannya, aturan yang dibuatnya pun teramat terbatas. Di samping tidak mungkin bisa diterapkan kepada semua pihak dengan latar belakang dan budaya yang berbeda, aturan tersebut tidak mungkin bisa bertahan sepanjang waktu. Ketika aturan produk makhluk serba terbatas itu diterapkan secara paksa kepada pihak tertentu, bukan saja menonak, mereka bahkan tidak mustahil akan memeranginya.  Bersambung . . . .

Bahaya Zina (A-Qur'an)


Melihat bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh praktek zina merupakan bahaya yang tergolong besar, dan praktek tersebut juga bertentangan dengan aturan universal yang diberlakukan untuk menjaga kejelasan nasab keturunan, menjaga kesucian dan kehormatan diri, juga mewaspadai hal-hal yangmenimbulkan permusuhan serta persaan benci di antara manusia disebabkan pengrusakan terhadap kehormatan isteri, putri, saudara perempuan dan ibu mereka. dan inijelas akan merusak tatanan kehidupan. melihat hal itu semua, pantaslah bahaya praktek zina itu bobotnya setingkat di bawah praktek pembunuhan. Oleh karena itu, Allah menggandeng keduanya di dalam Al-Qur'an dan juga Rosulullah saw. dalam keterangan hadits beliau.
Al-Imam Ahmad berkata : "Aku tidak mengetahui sebuah dosa setelah dosa membunuh yang lebih besar dari dosa zina."
dan Allah menegaskan pengharamannya dalam firmannya surah Al-Furqan ayat 68-70 yang artinya :
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu,niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat ... " .
Dalam ayat tersebut, Allah menggandengkan zina dengan syirik dan membunuh jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat yang berlipat ganda, selama pelakunya tidak menetralisir hal tersebut dengan cara bertaubat, beriman dan beramal shalih. Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 32 yang artinya :
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk".
Di sini Allah menjelaskan tentang kejinya praktek zina dan kata "fahisyah" maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan dapat diakui kekejiannya oelh setiap orang berakal bahkan oleh sebagian banyak binatang, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhori dala Shahihnya dari Amar bin Maimun Al-Audi, dia berkata : "Aku pernah melihat pada masa jahiliyah seekor kera jantan yang berzina dengan seekor kera betina. Lalu datanglah kawanan kera mengerumuni mereka berdua dan melempari keduanya sampai mati. (H.R. Bukhori (3849)).
Kemudian Allah juga memberitahukan bahwa praktek zina adalah seburuk-buruk jalan; karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan kehinaan di dunia, siksaan dan azab di akhirat nanti.
Dan karena menikahi mantan isteri-isteri ayah itu termasuk perbuatan yang sangat jelek sekali, Allah secara khusus memberikan "cela" tambahan bagi praktek menikahi isteri orang tua. Allah berfirman (setelah secara tegas melarang kaum muslimin untuk menikasi isteri-isteri ayah mereka) dalam surah An-Nisa ayat 22 yang artinya :
 "sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan yang ditempuh."
Allah juga menggantungkan keberuntungan seorang hamba pada kemampuannya dalam menjaga "kehormatannya. Tak ada jalan menuju keberuntungan tanpa menjaga "kehormatan". Allah berfirman :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu)  orang-orang yang khusu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri meraka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampau batas (QS. Al-Mukminun : 1-7)
Dalam ayat-ayat ini ada tiga hal yang diungkapkan, yaitu
1. Bahwa orang yang tidak menjaga kemaluannya, tidak akan termasuk orang yang beruntung.
2. Dia akan termasuk orang yang tercela
3. Dia termasuk orang yang melampau batas.
Jadi, dia tidak akan mendapat keberuntungan, serta berhak mendapat predikat "melampau batas" dan jatuh pada tindakan yang membuatnya tercela, padahal beratnya beban dalam menahan syahwat itu, lebih ringan ketimbang menanggung sebagian akibat yang disebutkan tadi.
Selain itu pula, Allah telah menyindir manusia yang selalu berkeluh kesah, tidak sabar dan tidak mampu mengendalikan diri saat mendapatkan kebahagian, demikian pula kesusahan. Bila mendapat kebahagian, dia menjaadi kikir, tak mau memberi, dan bila mendapat kesusahan, dia banuak mengeluh. Begitulah sifat umum manusia, kecuali orang-orang yang memang dikecualikan dari hambanya, yang diantaranya adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya :
"Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali terhapat isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hil ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampau batas. (QS. Al-Ma'arij : 29-31).
Dan karena ujung pangkal dari perbuatan zina yang keji ini dari pandangan mata, maka Allah lebih mendahulukan perintah untuk memalingkan pandangan mata sebelum perintah untuk menjaga kemaluan, karena banyak musibah besar yang asal muasalnya adalah dari pandangan; seperti kobaran api yang besar asalnya adalah percikan api yang kecil. Mulanya hanya pandangan, kemudian Khayalan, kemudian langkah nyata, kemudian terjadilah musibah yang merupakan kesalahan besar (zina).
Oleh karenanya, ada yang mengatakan, bahwa barangsiapa yang bisa menjaga empat hal maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya :
1. AL-LAHZAT (Pandangan Pertama)
2. Al-Khatharat (Pikiran yang melintas di benak)
3. Lafazhat (lidah dan ucapan)
4. Al-Khatawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan).
Dan seyogyanya, seorang hamba Allah itu bersedia untuk menjadi penjaga dirinya dari empat hal di atas dengan ketat, sebab dari situlah musuh akan datang menyerangnya, merasuk ke dalam dirinya dan merusak segala sesuatu.