Sunday, 22 November 2015

Cara berinteraksi dengan Al-Qur'an selain dengan Membaca Al-Qur'an



http://dikidarussalam.blogspot.com/2015/11/cara-berinteraksi-denganal-quran-selain.html













Assalamualaikum teman blog PecintaAl-Qur’an, postingan kali ini adalah lanjutan dari Cara suksesberiteraksi dengan al-quran. Yaitu 

Cara berinteraksi dengan Al-Qur'an selain dengan Membaca Al-Qur'an.




Sesungguhnya merupakan kelembutan dan rahmat dari Allah SWT kepada kaum muslimin yaitu Allah telah memberitahukan bagaimana cara mereka berinteraksi dengan al-Quran agar kita mendapatkan pahala dan keutamaan darinya. Dalam hal ini telah banyak ayat-ayat al-Quran yang memberitahukan, mengabarkan atau menceritakan kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan al-Quran. Diantara ayat-ayat itu adalah:

1.          At-Tadabbur (Mentadabburi al-quran). 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Muhammad (47) ayat 24:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾
Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad(47): 24)
Al-quran bukanlah buku bacaan yang hanya dibaca tanpa adanya pentadabburan atau perenungan dari orang yang membacanya. Namun inilah yang terjadi dimasyarakat kita sekarang, mereka hanya membaca al-Quran dengan mulutnya saja tanpa direnungkan dalam hatinya apa makna dan hikmah dalam ayat atau surat yang mereka baca. Oleh karena itu kebanyakan masyarakat sekarang masih tidak mampu dalam mengendalikan dirinya khususnya dalam akhlak mereka, karena al-Quran bagi mereka hanyalah seperti angin lewat yang tidak ada dampak, bekas atau fungsi apapun yang dapat merubah dan memajukan diri orang yang membaca kalam Allah SWT itu.
Rumah yang terkunci, lemari yang terkunci, jendela yang terkunci atau segala sesuatu yang terkunci, apakah kita bisa masuk atau memasukkan sesuatu kedalamnya dalam keadaaan terkunci seperti itu?, tentu jawabannya tidak. Begitupun dengan hati yang terkunci yang meskipun dibacakan kepadanya ayat-ayat al-Quran atau hadis-hadis nabi, tapi karena hatinya telah terkunci, maka ayat-ayat dan hadis nabi yang disampaikan kepadanya tidak akan berpengaruh terhadapan perubahan kehidupannya. Sama halnya dengan mereka yang membaca al-Quran hanya menggunakan lisannya saja tanpa menggunakan hatinya untuk mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya.

2.          At-tadzakkur (mengingat /mempelajarinya)

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Qamar (54) ayat 17:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِر  ﴿١٧﴾
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar (54): 17)
Al-quran adalah kitab yang jelas kebenarannya dan mudah dimengerti (masuk akal) dalam kisah-kisah atau pelajaran-pelajaran yang terdapat didalamnya. Maka semua pelajaran atau kisah-kisah yang ada dalam al-Quraan merupakan pengajaran Allah SWT kepada umat manusia agar dapat terlepas dari kesesatan-kesesatan atau ketidak mengertian hidup di dunia yang pana ini menuju hidayah dan cahaya Allah SWT.
Dalam membaca al-Quran kita tidak diharuskan membaca banyak-banyak tapi kosong pelajaran, akan tetapi dalam membaca al-Quran tentu kita harus dibarengai dengan mempelajarinya. Karena seseorang itu tidak dilahat banyak sedikitnya ia membaca al-Quran akantetapi dilihat apakah ia dapat mengambil pelajaran yang ada di dalamnya meskipun ia hanya membaca satu atau dua ayat saja.
Para sahabat pada zaman nabi saw tidak pernah membaca al-Quran kecuali mereka membaca untuk mempelajarinya, bahkan dalam sirah-nya nabi saw mengajarkan al-Quran kepada para sahabatnya tidak banyak-banyak tapi hanya sepuluh ayat-sepuluh ayat hingga para sahabat mempelajari dan memahami makna yang terkandung dalam ayat itu, barulah nabi mengajarkan sepuluh ayat berikutnya dan harus kita ketahui bahwa dalam pengajarannya tersebut Rasulullah SAW tidak mewajibkan untuk menghafalnya, akan tetapi beliau hanya fokus dalam mengajarkan makna dan hikmah yang ada dalam ayat tersebut.

3.          Al-isti’adzah qobla al-qira’ah (membaca ta’awwudz sebelum membacan al-Quran)

 sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl (16) ayat 98:
 فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
Artinya: “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (an-Nahl (16): 98)
Merupkan dari ciri karakter setan adalah mereka senantiasa berusaha dalam memalingakan dan menghalang-halangi kita dari amalan-amalan saleh yang akan mendekatkan kita kepada Allah SWT sebagimana yang telah diakui oleh setan itu sendiri yang diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al-A’raf (7) ayat 16:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾
Artinya: “Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (al-A’raf (7): 16)
Dari ayat diatas maka jelaslah bawa setan telah mengatakan sendiri bahwa ia akan selalu menghalang-halangi manusia dari perbuatan baik termasuk didalamnya adalah ketika seseorang  mempelajari al-Quran. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan kepada kita agar mengucapkan ta’awwudz sebelum membaca dan mempelajari al-Quran sebagai tameng bagi diri kita dari gangguan setan yang terkutuk.

4.          Al-istimaa wa al-inshath (mendengarkan dan berdiam ketika dibacakan al-Quran)

 Sebagaimana firman Allah dalam surat al-‘Araf (7) ayat 204:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٢٠٤﴾
Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (al-‘Araf (7): 204)
Dalam mendapatkan hidayah atau petunjik seseorang tidak hanya karena ia sering membaca al-Quran saja, akantetapi mungkin dan banyak terjadi seseorang yang mendapatkan hidayah justru karena ia mendengarkan ayat-ayat Allah SWT dari mulut orang lain, entah itu karena orang yang membacanya dapat membaca dengan tartil sesuai dengan tajwid, makhorojul hurf dan panjang pendeknya ataupun karena keindahan suara orang yang membacanya sehingga lebih memperindah ayat-ayat al-Quran dengan suara merdu orang yang membaca ayat tersebut. Sebagai contoh adalah Umar bin Khattab yang mana ia adalah seorang yang keras dan sangat membenci Rasulillah SAW, namun ketika ia mendengarkan al-Quran dari adiknya sendiri ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Rasulullah SAW bahkan akhirnya ia menyatakan keislamannya kepada Rasulullah SAW.
Maka itulah salah satu hikmah yang sangat berharga ketika kita mendengar al-Quran lantas kita mendengarkannya dengan khidmat dan penuh perhatian. Jangan sampai kita berlaku sebaliknya, ketika ada seseorang yang membaca al-Quran kita malah mengganggu orang tersebut dengan menyetel lagu-lagu yang bervolume sangat keras atau pun dengan gangguan-gangguan lain. Maka sungguh perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dihadapan Allah SWT atau dihadapan manausia.

5.          I’timadu at-tartil (memprioritaskan  pembacaannya dengan tartil)

Sebagaimana firman Allah SWT dalam  surat al-Muzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ﴿٤﴾
Artinya: “Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”. (al-muzammil (73): 4)
Membaca dengan tartil, artinya dalam membaca al-Quran tidak seharusnya kita tergesa-gesa sehingga dapat merusak bacaan kita dari kaidah-kaidah tajwid makhorijul huruf dan panjang pendeknya yang mana kita ketahui bahwa al-Quran adalah berbahasa arab yang apabila dalam membacanya ada satu huruf saja yang tidak terbaca atau makhorijul hurufnya salah, maka kemungkinan besar maknanya akan berbeda dengan yang diharapkan oleh sang pemilik al-Quran tersebut yaitu Allah SWT.
Membaca al-Quran dengan tartil juga dapat menolong kita dalam memahami al-Quran secara jeli dan teliti sehingga tiap kalimat yang kita baca akan meresap dan membekas dalam hati dan jiwa kita. Dengan pembacaan yang tartil, kita juga dapat terhindar dari ketertinggalan makna kalimat dari ayat yang kita baca yang dapat menjadikan kita kurang paham terhadap ayat tersebut, namun hal tersebut tidak akan terjadi jika dalam membacanya kita memikirkan kata-perkata atau kalimat perkalimat secara tartil.
Dan sabda rasulullah saw:
حَدَّثنا سلمة بن شَبِيب ، حَدَّثنا عَبد الرزاق ، حَدَّثنا عَبد الله بن المحرر ، عَن قَتادة ، عَن أَنَسٍ ، قال : قال رَسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم : لكل شيء حلية وحلية القرآن الصوت الحسن
Artinya: “telah menceritakan kepada kami Salmah bin Syabib, telah menceritakan kepada kami Abdu a-Razzaq, telah menceritakan kepada kami abdullah bin al-Muharrar dari Qotadah, dari Anas, ia berkata (bahwa) rasulullah SAW pernah bersabda: ‘stiap sesuatu itu memiliki warna dan warnanya al-Quran adalah (pembacaannya dengan) suara yang bagus”.

6.          Ar-ruju ila ahli adz-dzikri (kembali kepada ahli ilmu)

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl (16) ayat 43:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٤٣﴾
Artinya: “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”, (an-nahl (16): 43)
Yang dimaksud dengan ahli ilmu di sini adalah mereka yang memahmi ilmu-ilmu tentang al-Quran dengan segala seluk beluknya, yang mana kita diperintahkan untuk mengembalikan atau bertanya kepada mereka tentang makna-makna atau dalil-dalil dari ayat-ayat al-Quran yang belum kita pahami. Jadi jangan sampai kita menafsirkan al-Quran dengan ilmu kita yang terbatas, sehingga tidak memperhatikan prinsip-prinsip dalam menafsirkan sebuah ayat al-Quran.
Dan firman Allah SWT dalam surat ali Imran (3) ayat 7:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ﴿٧﴾
Artinya: “tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya…” (ali Imran (3): 7)
Ayat ini juga merupakan penegasan bagi kita agar kita senantiasa bertanya kepada yang mendalami ilmu tentang al-quran ketika kita mendapatkan ayat al-Quran yang tidak kita pahami makna dan tujuan yang terkandung didalamnya sehingga kita tidak keliru dalam memahami ayat tersebut.
Para ulama berbeda berpendapat dalam memahami siapakah yang dimaksud dengan ar-Rasihuna fi al-ilmi dalam ayat tersebut, namun pendapat yang lebih dekat adalah mereka yang merupakan golongan keluarga Rasulullah SAW (ahlul bait) yang mana mereka mengambil ayat-ayat tersebut murni langsng dari nabi saw. Namun dari sana kita bisa mengambil faidah, dikarenakan kita tidak menemukan mereka lagi dalam artian kita sudah berbeda zaman dengan masa nabi, maka tentu kita harus bertanya kepada orang yang lebih mengetahui dibandingkan kita, yaitu kepada mereka yang selalu mendalami ilmu-ilmu al-Quran.